Pedagang Trotoar di Senen, Mata Rantai Awal Perputaran Emas Kota

2026-04-16    HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Di trotoar Pasar Senen, Jakarta Pusat, transaksi emas berlangsung tanpa etalase kaca atau pencahayaan terang seperti di toko perhiasan.

Hanya berbekal gerobak kecil dan alat uji sederhana, para pedagang pinggir jalan menjalankan peran yang lebih besar dari sekadar membeli dan menjual.

Mereka menjadi titik awal dari perputaran emas di kota.

Perhiasan rusak milik warga yakni cincin penyok, gelang putus, hingga kalung patah berpindah tangan di trotoar ini.

Dari sana, emas tidak berhenti, melainkan bergerak ke tangan pemodal yang kemudian melebur dan membentuknya kembali menjadi perhiasan baru.

“Saya hanya beli. Barang yang saya beli itu yang rongsokan, yang patah-patah atau cacat. Nanti saya jual lagi ke bos. Bos itulah yang ngelebur emasnya,” ujar Poman (60), pedagang emas pinggir jalan di kawasan Jalan Senen III, Selasa (14/4/2026).

Di lapaknya yang sederhana, tidak ada tanda kemewahan. Gerobak kecil berwarna silver, stiker bertuliskan “BELI EMAS BELI”, serta beberapa peralatan dasar menjadi modal utama menjalankan transaksi.

Namun dari tempat itulah, aliran emas dimulai.

Rantai yang tak terlihat

Peran pedagang trotoar sering kali luput dari perhatian.

Padahal, mereka menjadi penghubung antara masyarakat yang membutuhkan uang cepat dan industri pengolahan emas yang lebih besar.

Setiap transaksi di lapak jalanan bukanlah akhir, melainkan awal dari proses panjang.

Emas yang terkumpul akan disortir, diuji, lalu dilebur untuk kembali masuk ke pasar dalam bentuk baru.

Pedagang seperti Poman tidak bekerja sendiri. Mereka berada dalam jaringan yang melibatkan pemodal, pengolah, hingga pedagang toko.

Namun, posisi di mata rantai paling awal ini juga berarti risiko terbesar berada di tangan mereka.

“Pernah rugi sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang sampai Rp 20 juta,” kata Poman.